Etnografi, Realisme, dan Fiksi
- Feb 11, 2016
- 4 min read

Sejak lima dekade yang lalu, para antropolog telah memanfaatkan etnografi sebagai wahana untuk menuangkan pengalaman dan kajian mereka. Etnografi menjadi sebuah cara yang dianggap paling tepat untuk menggambarkan realitas masyarakat yang diteliti. Dalam tradisi kajian antropologi klasik, etnografi menjadi “jembatan” antara pemikiran teoritis dan realitas kehidupan sehari-hari tangkapan sang antropolog. Tradisi semacam ini meletakkan etnografi sebagai “realitas ketiga”, yakni realitas tulis yang berada di luar realitas subyektif penulis dan realitas obyektif yang dituliskan.
Namun saat ini, etnografi, sebagai sebuah metode dan tulisan, mulai sering dimanfaatkan oleh kajian budaya (cultural studies), kritik sastra, sastra bandingan, sejarah, dan berbagai disiplin lainnya. Bahkan, etnografi tak lagi menjadi sebuah metode asing di kalangan para pembuat film, terutama mereka yang bergerak di bidang film dokumenter atau mereka yang sekedar ingin menonjolkan corak realisme dalam karya mereka.
Tetapi, pemanfaatan metode dan tulisan etnografi yang semakin meluas itu telah memunculkan kegamangan sangat dalam di kalangan para penganut gaya etnografi klasik, yaitu para antropolog yang berpendapat bahwa etnografi bukan sekedar karya tulisan, tetapi juga yang harus mematuhi kaidah “ilmiah”. Jika plot dan struktur menjadi prinsip baku penulisan sebuah novel, obyektifitas dan pembenaran empiris menjadi tulang punggung yang menentukan apakah sebuah tulisan dapat dikategorikan sebagai “etnografis.”
Maka ketika etnografi dipakai sebagai alat kajian dan representasi hal-hal yang dianggap bersifat “tidak obyektif” dan “tidak empiris” — misalnya bila metode etnografi dipakai untuk mengkaji dan menulis sebuah fiksi atau novel — para etnograf klasik mengatakan bahwa telah terjadi sebuah krisis representasi dalam seluruh bangunan antropologi sebagai ilmu sosial. Antropologi kini telah “disastrakan”, kata mereka.
Etnografi moderen mencapai titik puncaknya kala Bronislaw Malinowski menerbitkan karya besarnya Argonauts of the Western Pacific, sebuah karya etnografi yang dianggap nyaris sempurna. Buku tebal ini merupakan laporan hasil penelitian Malinowski tentang sistem pertukaran di Kepulauan Trobriand. Kekuatannya terletak pada cara penulisannya yang sangat realis sehingga pembaca seolah-olah diajak mengikuti ekspedisi kula, yaitu pelayaran masyarakat setempat dari satu pulau ke pulau lain.
Argonauts sering diajukan sebagai contoh bahwa seorang etnograf bisa menghasilkan sebuah karya bagus tanpa harus mengorbankan prinsip obyektifitas dan empiris dalam penulisan ilmu sosial.
Sekitar tiga puluh tahun setelah Argonauts — yakni pada tahun 1960-an — terbitlah sebuah buku Malinowski lain, A Diary in Its Strictest Sense of the Term yang menggemparkan dunia antropologi. Seperti tampak dalam judulnya, buku ini merupakan catatan harian Malinowski yang ditulis saat ia melakukan penelitian di Trobriand, dan baru diterbitkan setelah ia meninggal. Penerbitan Diary menampar muka para antropolog karena catatan harian Malinowski ini dengan jelas memperlihatkan bahwa ia kemungkinan besar tak pernah mengikuti ekspedisi kula dan sebagian besar deskripsinya tentang tradisi itu hanya diperoleh dari informasi masyarakat setempat.
Pada mulanya, banyak orang yang meragukan keaslian Diary, karena gambaran tentang kula di dalam Argonauts sangatlah rinci dan menciptakan imaji yang sangat kuat sehingga tampaknya tak mungkin apabila Malinowski menuliskannya dengan hanya berdasarkan informasi dan bukan dari pengalaman sendiri. Namun setelah salah seorang keluarga Malinowksi membenarkan bahwa catatan harian itu memang ditulis Malinowski, maka orang berpaling dari perdebatan tentang keaslian ke arah perdebatan tentang penulisan etnografi itu sendiri.
Perlu diingat bahwa Argonauts ditulis pada tahun 1930-an, saat modernisme secara kuat mempengaruhi gaya penulisan sastra. Penulisan gaya realis adalah salah satu elemen modernisme yang populer saat itu. Zora Neale Hurston, seorang antropolog Amerika yang beralih menjadi penulis, juga banyak menggabungkan prinsip realisme dan etnografis dalam karya fiksinya tentang praktik voodo di Haiti.
Prinsip realisme dalam penulisan dicapai melalui pemisahan antara penggambaran realitas — realitas tokoh maupun realitas alam — dan peran penulis yang tugasnya hanya merepresentasikan realitas itu dalam narasi. Pada masa puncak gerakan modernisme, belum ada kesadaran kritis bahwa pemilihan sebuah aspek realitas yang akan ditonjolkan dalam narasi sebenarnya merupakan fungsi atau subjektifitas sang pengarang. Oleh karena itu, pendekatan realisme sangat cocok untuk penulisan etnografi klasik karena etnografi realis semacam itu dianggap berhasil “mematikan” subjektifitas pengarang. Dalam hal ini sang etnograf atau antropolog dituntut untuk selalu bersikap “obyektif.”
Penerbitan Diary benar-benar menggoyah pandangan bahwa sebuah etnografi bersifat realis murni. Di pihak lain, pendekatan kritis menunjukkan bahwa etnografi juga bukan sebuah fiksi karena peristiwa atau konteks lingkungan yang direpresentasikan dalam narasi etnografi adalah situasi yang benar-benar terjadi. Apabila pandangan antropologi pascamodernis mengatakan bahwa semua etnografi adalah karya fiksi karena semata-mata merupakan refleksi si penulis, maka pandangan antropologi kritis mengakui bahwa sebuah etnografi pasti mencerminkan subyektifitas si penulis, yakni subyektifitas yang mempengaruhi pemilihan dan penafsiran realitas yang dijelmakan dalam narasi etnografi.
Dengan kata lain, narasi etnografi selalu bersifat kontekstual, dalam arti selalu terkait dengan subyektifitas dan kemungkinan-kemungkinan representasi yang ditawarkan oleh realitas itu sendiri.
Beberapa antropolog saat ini sudah mulai mencoba menerapkan perspektif etnografi kritis untuk menghasilkan etnografi yang lebih menonjolkan sisi manusiawi. Kirin Narayan, Paul Stoller, dan Keith Basso, adalah beberapa contoh antropolog yang meminjam teknik penulisan fiksi untuk menyusun etnografi tentang seseorang atau sebuah kelompok sosial. Meskipun meminjam teknik penulisan fiksi, karya mereka tidak sama dengan fiksi. Narasi etnografi mereka diciptakan melalui teknik dasar penulisan fiksi, seperti penggunaan sudut pandang, teknik dialog, deskripsi yang bersifat alegoris atau realis, dan, kadang-kadang, pemanfaatan plot cerita.
Meskipun demikian, tokoh-tokoh, situasi yang digambarkan, maupun kata-kata yang menyusun dialog, semuanya nyata dan bukan diciptakan oleh penulis/antropolog. Dalam pengertian ini, etnografi kritis mirip dengan pendekatan jurnalisme sastra (literary journalism).
Etnografi kritis adalah jawaban terhadap kegamangan antropologi yang dituntut untuk mulai dapat bercerita secara memukau tetapi pada saat yang sama mempertahankan unsur-unsur realisme yang menjadi syarat sebuah kajian ilmu sosial. Saat ini, pandangan yang menempatkan narasi fiksi dan narasi tulisan ilmiah sebagai dua hal yang tak bisa disatukan, sudah mulai dipertanyakan. Sudah mulai diragukan pula pandangan yang membedakan fiksi sebagai sebuah karya seni dan etnografi sebagai sebuah karya ilmiah.
Sebuah karya ilmiah dapat mencerminkan ketrampilan sang penulisnya dengan penggunaan teknik-teknik narasi yang memukau dan indah. Etnografi kritis menawarkan sebuah bentuk representasi realitas yang menarik tanpa harus terjebak pada kegenitan pascamodernisme yang menganggap semua realitas telah mati.
Sumber: https://fithufail.wordpress.com/2008/01/16/etnografi-realisme-fiksi/






























Comments