top of page

Jara Sara'u, Gone With The Wind

  • Feb 6, 2016
  • 2 min read

Jara Sara'u (kuda menari atau kuda rancak) adalah kuda-kuda yang memiliki keterampilan dalam mengatur langkah-langkah rancak yang membentuk irama-irama harmonis. Penampilannya biasa biasa diiringi oleh bunyi serunai dan gendang, Sarone dan Katipu, dan kuda-kuda terlatih itupun menari-nari seperti memanjakan penunggangnya dan para penonton. Jara Sara'u pernah kondang di Bima terutama pada era Kesultanan, masa-masa yang sarat dengan panggung dan ragam budaya.

Istilah jara sara'u tidak terutama mengacu pada kudanya, tapi sekaligus menunjuk kepada prosesi atau pertunjukannya, karna kenyataannya dalam prosesi jara sara'u bisa saja dilibatkan kuda-kuda pacu asal memiliki tambahan kemahiran menari selain kecepatan dan trengginas-nya. Jara sara'u merefleksikan keanggunan, kerancaan, ketertataan, kedisiplinan, harmoni dan keseimbangan. Ia adalah representasi keraton atau pusat kekuasaan, atau elit yang selalu identik dengan kebesaran dan keluhuran. Berbeda dengan pacuan kuda yang liar, keras, dekil, kerumunan, tidak terduga, mendebarkan, dan identik dengan nilai-nilai anutan orang kecil.


Jara sara'u adalah bagian dari upacara adat Hanta U'a Pua (Sirih Puan), yaitu perhelatan memperingati dan merekonstruksi proses masuknnya Agama islam di dana Mbojo. Upacara Hanta U'a Pua mulai dipraktekkan pada masa Sultan Abil Khail Sirajuddin (1635-1681) dan tetap dipraktekkan sampai Sultan terakhir Muhammad Salahuddin (1917-1950). Sempat terhenti dalam jangka waktu lebih dari tiga dekade, perhelatan ini digalakkan tahun 1982 ketika Umar Harun menjabat Bupati Bima.


Jara sara'u terkenal berasal dari Wera. Di antara yang dikenal masyarakat pada era 1940-an adalah La Maci, berbulu ndere kala, dan Nenggu, berbulu lawu, keduanya milik Ompu Sasongo dari Nunggi, Wera. Kuda-kuda ini selalu di undang oleh Sultan Bima saat upacara Hanta U'a Pua. La Maci adalah langganan Sultan Bima untuk perhelatan-perhelatan istana. Kuda merah ini biasa naik ke tangga istana menjemput Sultan, menekuk kakinya sehingga Sultan bisa menaiki punggungnya dengan mudah.


Sekarang pamornya di mata pablik kalah dengan jara pacoa (kuda pacu). Jika pacoa budaya massa, pop cilture, atau tradisi rendah (low tradition), maka jara sara'u elit, agung dan budaya tinggi (high tradition). ia dipraktekkan secara terbatas dan didukung oleh kalangan istana. bukannya tidak bisa di akses, tetapi proses penerimaan (resepsi) terhadap tradisi jara sara'u tidak semassif pacuan kuda karena ada mistifikasi di dalamnya.


Kini jara sara'u jarang ditemui lagi. Ia pergi bersama tradisi-tradisi budaya masa lampau yang tidak sembarang lagi dipraktekkan. Pelatihnya tak ada lagi, karna ranahnya tiada lagi. Seperti manusia bima yang tidak lagi gandrung atau mengenal lenggo, tarian khas Bima, kuda Bima pun sudah enggan untuk menari lagi. Mereka hidup dalam dunia modern yang lebih maskulin, lebih grinta. Jara sara'u adalah masa lalu. Sedang jara pacoaadalah representasi nilai-nilai modernitas yang menonjolkan, ketangguhan, persaingan, intrik, dan capain-capain terukur. Karena itu, Pacoa jara akan terus berkembangan mengiringi laju perkembangan zaman.

 
 
 

Comments


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
bottom of page