DOU SAMBORI

Masyarakat Sambori yang mendiami lereng gunung Lambitu Bima, masih menjaga dan mempertahankan adat, tradisi dan budaya warisan turun-temurun.
MEREKA PAHAM BETUL MAKNA SEBUAH IDENTITAS.

"Masyarakat yang menjaga warisan leluhur adalah masyarakat sadar nilai yang menjadikan kode kebudayaan sebagai identitas."
~Alamtara Etnografi ~
MASYARAKAT DALAM SEJARAH DAN KEBUDAYAAN BIMA
Museum Mbojo sebagai salah satu bukti adanya kerjaan di Bima
Pertama, ilmu arkeologi yang selama ini hanya mengungkapkan segelintir peninggalan yang terpisah-pisah. Namun ilmu arkeologi itulah yang barangkali akan berhasil menentukan patokan-patokan kronologi terpenting dari masa prasejarah sampai masa Islam. Kedua, sejumlah dokumen dalam bahasa Melayu yang ditulis di Bima antara abad ke-17 sampai dengan abad 20. Bahasa Bima merupakan bahasa setempat yang dipakai sehari-hari di Kabupaten Bima dan Dompu (nggahi Mbojo). Bahasa tersebut jarang, dan sejak masa yang relatif muda, digunakan secara tertulis. Beberapa teks lama yang masih tersimpan dalam bahasa tersebut, tertulis dalam bahasa Arab atau Latin. Tiga jenis aksara asli Bima pernah dikemukakan oleh pengamat-pengamat asing pada abad ke-19, tetapi kita tidak mempunyai contoh satu pun yang membuktikan bahwa aksara tersebut pernah dipakai. Oleh karena itu bahasa Bima rupanya tidak pernah menjadi bahasa tertulis yang umum di daerah tersebut. Pada jaman dahulu, bahasa lain pernah digunakan. Dua prasasti telah ditemukan di sebelah barat Teluk Bima, satu agaknya dalam bahasa Sanskerta, yang lain dalam bahasa Jawa kuno. Selanjutnya bahasa Makassar dan bahasa Arab kadang-kadang dipakai juga. Ternyata sejak abad ke-17 kebanyakan dokumen tersebut resmi ditulis di Bima dalam Bahasa Melayu.
Bima di bagi dalam 4 jaman, yaitu:
-
Jaman Naka (Prasejarah)
-
Jaman Ncuhi (Proto Sejarah)
-
Jaman Kerajaan (Masa Klasik)
-
Jaman Kesultanan (Masa Islam)